News Update :

Perpustakaan Pesantren Sebagai Wujud Pengembangan Intelektual Santri

Perpustakaan sebagai hasil budaya yang mempunyai fungsi sebagai sumber informasi, sumber ilmu pengetahuaan, teknologi dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan (kepres no 11 th 1998) selain merupakan sebuah sarana yang digunakan sebagai jembatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi, juga di gunakan sebagai sarana untuk menjawab tantangan di abad 21 ini, seperti yang tertulis dalam UU Republik Indonesia no 43 tentang perpustakaan pada pasal 3 yaitu Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Selain itu, fungsi perpustakaan tidak lain adalah untuk membangkitkan dan meningkatkan minat baca. dengan program program yang dibuatnya, perpustakaan di tuntut untuk menjadi pelopor untuk menarik calon pengguna agar dekat dengan sumber informasi, dan pustakawan berperan sebagai agen perubahan untuk menciptakan kebudayaan membaca.
Pernyataan di atas termasuk cermin pentingnya keberadaan sebuah perpustakaan, tidak terkecuali perpustakaan di pondok pesantren. Seperti fenomena pada perpustakaan “A.Wahid Hasyim” Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Perpustakaan ini melibatkan seorang pustakawan yang mengelola manajemen perpustakaan secara sistematis dan profesional, sehingga diharapkan akan meningkatkan minat baca santri dan siswa secara terarah.(www.tebuireng.com).

Pada dunia pesantren, keberadaan perpustakaan dirasa perlu dan sangat berperan dalam pengembangan pondok pesantren, lebih khusunya minat baca santri, dengan waktu yang kebanyakan diisi oleh kegiatan keagamaan, tidak dapat menjadi alasan untuk tidak mengembangakan minat baca terhadap buku-buku non keagamaan, karena mau tidak mau disaat santri dinyatakan lulus dari pondok pesantren, para santri akan dihadapkan dengan kehidupan nyata yang sangat memerlukan pengetahuan pengetahuan yang lebih komplek. Oleh karena itu perpustakaan dapat dipandang sebagai sarana untuk pondok pesantren dalam memberikan pengetahuan luar guna keperluan bersosialisasi dengan masyarakat.

Saat ini di Indonesia terdapat ribuan lembaga pendidikan Islam yang terletak diseluruh nusantara dan dikenal sebagai dayah dan rangkang di Aceh, surau di Sumatra Barat, dan pondok pesantren di Jawa (Azra, 2001:70). Menurut data terakhir Tempo (21 september 2009) departemen agama mencatat ada sedikit 21.000 pesantren di seluruh tanah air, dengan hampir empat juta santri, angka ini meningkat empat kali lipat dalam 20 tahun terahir, atau dua kali lipat dalam enam tahun belakang ini.

Pondok pesantren juga dapat dikatagorikan secara sederhana dalam dua kutub yaitu salafi dengan modern, dimana tiap pesantren mempunyai ciri khas dan wajahnya sendiri, ada yang memberi tekanan pada ilmu fikih dan ada yang mumpuni dalam mengajarkan bahasa arab. Tak sedidikt juga yang menekankan ilmu tasawuf, atau menonjolkan dalam teknik hafalan Al Quran, ataupun sekedar menulis kaligrafi. Demikian halnya dengan segala sistem dan sarana penunjang yang diperkenankan dimanfaatkan oleh santri. Semuanya harus sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh pihak pengelola pondok pesantren dan pimpinan (kyai). Tidak lain halnya dengan sarana penunjang pembelajaran yang berupa perpustakaan. Dalam hal ini, perpustakaan pondok pesantren memiliki peran yang penting dalam meningkatkan wawasan keilmuan para santri.

Dengan tuntutan modernisasi, selayaknya pondok pesantren secara berbondong-bondong menerapkan pola pengajaran yang mengadopsi kurikulum pendidikan nasional dengan mengajarkan materi-materi keilmuan non keagamaan. Secara tidak langsung ilmu fiddin dan pengetahuan umum merupakan pasangan serasi nantinya dalam penerapan di masyarakat, belajar akhlak dengan ilmu agama dan belajar ilmu pengetahuan umum dengan materi materi pengetahuan umum dikatakan akan sangat bermanfaat. Intinya dengan kolaborasi ilmu agama di padukan dengan ilmu pengetahuan umum akan menghasilkan orang orang intelektual yang berahklak.

Oleh karena itu, keberadaan perpustakaan dalam memberikan informasi yang berisfat ilmu pengetahuan umum dan ilmu agama dikira sangat penting dan perlu guna tercapainya manusia intelektual yang berakhlak
Share this Article on :

0 komentar:

Poskan Komentar

 

© Copyright NANTAKU 2010 -2011 | Design by DuaKutub | Published by Tangga Karir | Powered by Blogger.com.